Wanita Tegar yang Kehilangan 4 Putranya dengan Cara Tragis

Jan 17

2013 01 17 +79UbAayWM4ssWdl8HK

Sebenarnya hidup yang dijalaninya sendiri sebagai tukang urut keliling di kota besar sudah berat. Ia harus memenuhi permintaan jika ada panggilan mengurut dengan menggunakan bis kota atau jasa ojek.

Karena inginnya ia bisa tepat waktu memenuhi panggilan mengurut itu, kadang wanita yang sudah berusia 57 tahun itu harus terburu buru, sehingga kakinya pernah terkilir saat buru buru turun dari bis dan pernah tertabrak sepeda motor hingga giginya hampir ompong karena wajahnya membentur aspal jalan.

Ia harus semakin serius bekerja sebab terhitung sejak 13 tahun terakhir ini ia sendiri yang harus menghidupi keluarganya. Suaminya yang berprofesi sebagai sopir angkutan tidak lagi bisa bekerja normal karena penyakit asmanya yang sering kambuh.

Sekali kali memang pernah suaminya memenuhi permintaan sebagai sopir panggilan, tetapi akhirnya sang suami dimintanya untuk tidak bekerja karena penyakitnya itu

Ia dan suaminya mendapatkan anugrah dan harus menghidupi 12 orang anak.

Tetapi beban dan hantaman badai kehidupan yang jauh lebih dahsyat datang dari 4 orang anaknya yang akhirnya meninggal secara tragis akibat terjebak penggunaan narkoba

Namun asa besar di jiwanya serta tanggungjawabnya yang menakjubkan atas semua beban hidupnya yang bisa menegarkan dan mengokohkan dirinya menghadapi semua itu.

Sebut saja A, B, C dan D nama ke 4 anaknya yang meninggal karena narkoba itu, dari 12 anak anak tercintanya.

Putranya yang A meninggal tidak lama setelah dokter memvonis bahwa fungsi ginjal, hati dan lambungnya sudah rusak dan harus segera dioperasi. Karena biayanya sangat mahal, ia bersama suaminya berniat membawa dan memberi terapi alternatif ke sebuah pesantren serta berharap bisa mengokohkan akidah sang buah hati tercinta itu.

Ditengah jalan, A sang putra itu tiba tiba berusaha meraih tangannya dan hendak menciumnya, seperti hendak meminta maaf atas semua salah yang telah menambah beban berat hidup baginya sebagai ibu tercintanya.

Tetapi ia tak sanggup meraih tangan ibu tercintanya itu, karena tangannya sebenarnya sudah patah sebelumnya akibat suatu kejadiaan bersama narkoba yang telah menghancurkan hidupnya dimasa lalu.

Tidak lama setelah itu A sang putra itu terkulai dan meninggal dihadapannya

Si B putranya yang lain mengalami kejadian yang semakin membuatnya merasakan kegetiran hidup yang jauh lebih pahit. Ia juga seperti A kakaknya, mengkonsumsi narkoba hingga begitu parah daya rusaknya pada tubuhnya.

Setelah mendapati B pulang malam, sempoyongan, mata memerah dan akhirnya tidak tersadarkan diri, ia segera membawanya ke rumah sakit.

Di rumah sakit selama 3 jam, B sang putra tidak mendapatkan tindakan medis apapun. Baru setelah 12 jam kemudian dokter yang memeriksanya mengatakan bahwa kerusakan pada organ dalam tubuhnya begitu parah akibat narkoba yang dikonsumsinya. Dan tidak lama kemudian B sang putra menyusul kakaknya A meninggal dengan cara yang sama karena narkoba yang telah menjebak dan menghancurkan hidupnya.

Wanita itu menenangkan dan meneguhkan dirinya dengan banyak beristighfar. Dengan lembut dia membisikkan dua kalimat syahadat kepada B putranya yang sudah meninggal, mengharap ampunan ALLAH diberikan kepada putranya itu.

Putranya yang C meninggal didalam penjara. Awal nya kepolisian menangkapnya dalam sebuah kejadian saat C kepergok karena coba coba menggunakan narkoba bersama teman temannya. C kemudian divonis 1 tahun 6 bulan.

Didalam penjara, C yang masih berusia 18 tahun sering jatuh sakit dan setelah menemaninya 10 hari berada di klinik penjara wanita itu berpamitan pulang sebentar kepada C.

Kala itu, saat hendak meninggalkan C, ia melihat pandangan C sudah tidak bercahaya serta matanya melirik lirik ke arah yang tidak jelas.

Ia berpamitan: “Ibu pulang ya nak, jangan lupa minum obatnya. InsyaAllah besok ibu datang lagi”

Perasaannya tidak enak meninggalkan sang putra C sendiri didalam penjara.

Benar saja, keesokan harinya setelah sholat shubuh, ada seorang yang menyampaikan berita kepadanya bahwa putranya C akhirnya meninggal didalam penjara.

Beban berat kehidupan semakin menindihnya. Tubuhnya lemas. Ia tak sanggup berjalan mendengar berita itu. Sebab itu berarti sudah 3 orang putranya yang meninggal karena narkoba.

Teman itu saja. . . ya. . yang bisa saya ceritakan. . saya tidak ingin meneruskan mengisahkan kematian putranya, D, yang juga meninggal karena narkoba. . . .

Wanita tukang urut itu kini bersama suaminya banyak berdoa kepada Allah semoga keluarganya yang masih ada dijauhkan oleh Allah dari narkoba yang telah membawa malapetaka bagi ke 4 putranya itu.

Semoga kita bisa bercermin dari ketegaran dan ketangguhan wanita tukang urut itu.

Ya Allah teguhkkanlah hatinya, damaikan lah hidupnya, luaskanlah ampunan MU untuk dia dan keluarganya.

Tulis tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *