Tiga Wanita Penakluk Kesulitan

Nov 25

539716 547094a2767e593e2ee6ab659b938391 large

“Engkau tidak akan pernah kekurangan orang hebat dalam hidup ini untuk engkau jadikan cermin ketegaran perjuangannya mengatasi kesulitan hidup”

Setelah keluarbiasaan penduduk Gaza bertahan hidup dalam suasana yang sangat tidak mungkin karena diblokade dari seluruh arah oleh Israel dan dicoba dihancurkan oleh serangan militernya yang brutal dan biadab, saya menemukan catatan tentang PERJUANGAN BERTAHAN HIDUP dalam 3 potert kehidupan berikut ini.

Walaupun tidak sehebat penduduk Gaza, tetapi sepotong perjuangan hidupnya layak untuk direnungkan:

Pertama: Bisakah bertahan hidup di kota besar dalam keadaan sebatang kara, padahal usianya sudah mendekati 100 tahun?

Bisa. Siapakah dia?

Seorang pemuda menemukan sosok langka itu. Didepan sebuah supermarket sang pemuda menemukan nenek yang sedang menawarkan sejumlah buah.

Pemuda itu mengajak sang nenek kedalam mobilnya, dan mengajukan sejumlah pertanyaan. Nenek itu akhirnya mengaku ketika ditanya mengapa tangannya sangat kurus sekali?””Saya kurang makan nak,”jawabnya dengan berlinang airmata

Usia nenek itu hampir 100 tahun. Sehari hari dia bertahan hidup dengan cara yang unik. Setiap pagi nenek ini harus pagi pagi ke pasar buah. Dari sejumlah pedagan buah nenek itu menerima pemberian 2 buah jeruk.

Total dia mendapat sekitar 10 -20 jeruk. Lalu jeru jeruk itu dibawanya pulang untuk dibersihkan sebelum akhirnya dijualnya di depan sejumlah perkantoran dengan harga Rp 1.000.

Terkadang sang nenek pulang dengan masih membawa pulang sisa jeruk yang sudah agak busuk dan tentu saja tidak mungkin dijualnya.

Nenek itu hidup dari uang hasil penjualan itu dan menkonsumsi jeruk yang agak busuk itu, yang tidak mungkin dibuangnya.

Jika letih dan lelah ditubuhnya tiba, ia kemudian merebahkan dirinya disebuah RUMAH KOTAK terbuat dari kardus dan kayu triplek berukuran 2 x 2 meter persegi.

Nenek itu tidak pernah menyerah dengan beratnya kehidupan hingga diusianya yang semakin senja

Kedua: Wanita itu mengaku tidak terbiasa dan tidak punya latar belakang merawat orang sedari masa kanak kanaknya. Tetapi keadaanlah yang memaksanya untuk melakukan pekerjaan merawat orang sakit.

Siapa yang sakit? Suaminya sendiri.

Wanita itu mengaku tentang keadaan suaminya sebagai berikut:

“Dia pria yang sehat. Tidak pernah merokok, dan berlari 8 km perhari. Dua minggu kemudian, setelah menjalani operasi yang mengancam jiwa, aku membawa pulang seorang suami yang dadanya pernah dibuka. Yang beberapa tulang rusuknya yang patah sudah diambil. Dan hampir seluruh paru parunya dipotong karena ada penyakit didalamnya.”

“Aku tidak mengerti apa tentang penyakit ini, kecuali bahwa ini adalah penyakit yang sangat buruk. Mau tak mau, sekarang aku menjadi perawat tanpa punya buku petunjuk”

Wanita itu menakjubkan. Inilah pengakuannya tentang hari hari melelahkan penuh perjuang merawat suami tercintanya: “Aku dan suamiku menjalani kehidupan melawan penyakit yang dideritanya selama 6 tahun. Walaupun aku mungkin tidak selalu menyukai pekerjaan merawat, aku selalu mencintai pasienku. Suamiku.”

Wanita itu terus memberikan kasih sayang, cinta dan kesetiaanny dalam beratnya perjalanan hidup keluarganya

Ketiga: Wanita itu mengaku melepas posisinya bekerja di sebuah perusahaan, padahal dia secara reguler sudah menerima gaji diatas Rp 1.500.000, perbulan disebuah kota kabupaten

Wanita itu mencoba meretas mewujudkan mimpi baru. Mimpi ideal penuh pengabdian. Menjadi orang yang berkecimpung didunia pendidikan.

Sebulan pertama setelah wanita itu diterima dan bekerja di sebuah sekolah SD swasta sebagai tenaga Tata Usaha, dia mengaku berdebar debar ketika membuka amplop gaji pertamanya.

Dan ketika dibuka. . . . ternyata hanya sebesar Rp 240.000 gajinya sebulan. Itu baru 80 % dari total gajinya, karena ia masih menjalani masa percobaan. Jadi jika utuh gajinya Rp 300.000.

Wanita itu tidak menyerah. Ia berusaha bisa mendaftar menjadi guru disekola itu. Karena tidak punya ijazah sebagai guru, ia memilih sambil kuliah mengambil akta mengajar di sebuah kampus di kota tetangga.

Ia diterima, tetapi ia harus membayar uang muka Rp 3.500.000. Padahal gajinya cuma Rp 300.000 perbulan sebagai tenaga Tata Usaha disekolahnya.

Wanita itu nekat meminjam uang sebesar Rp 3.500.000 dari sekolah tempat dia bekerja dan meminta memotong separuh gajinya perbulan untuk membayar secara mencicil hutangnya itu.

Dia kini ia hidup dengan Rp 150.000 perbulan, gaji dari sekolah itu.
Bisakah? Bisa. Terbukti dia berhasil lulus dan berhak atas IJAZAH MENGAJAR.

Bagaimana ia mengelola hidup. Saya tidak punya cukup informasi lagi. Tapi sepotong kisa perjuangan hidupnya begitu menginspirasi kita semua tentang keteguhan, kegigihan, serta ketinggian cita cita hidup.

Terimakasih ya Allah, satu persatu cermin kehidupan Engkau berikan kepada kami.

Tulis tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *