Tiga Prinsip Melipatgandakan Produktivitas Hidup

Oct 28

+1256929618xJdRW41

“Jika daya rubah yang engkau inginkan besar dan luas, maka prestasi hidupmu tidak boleh biasa biasa saja, tetapi harus luar biasa”

Tiga prinsip berikut ini semakin saya yakini kebenarannya ketika saya praktekkan semakin baik dari waktu ke waktu. Ini memang masih kelanjutan dari tulisan tulisan saya sebelumnya tentang TAQWA.

Pertama: Saya harus membiasakan bekerja dengan tingkat efisiensi, efektivitas, dan produktivitas yang tinggi.

Memang itu syaratnya. Langkah hidup apapun yang saya ambil, tetapi jika saya berlaku boros dengan sumber daya yang saya miliki, dan saya juga salah dalam mengalokasikan seluruh sumber daya yang saya miliki, maka saya tidak akan pernah bisa meraih sukses dalam dua kehidupan.

Coba renungkan: ”Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman,. ..yaitu mereka yang meninggalkan segala perkataan dan tindakan yang tidak bermanfaat”(QS 23: 1 dan 3)

Kedua: Saya harus bisa menghasilkan dan menghimpun prestasi kebaikan sebanyak mungkin.

Kehidupan ini ditakdirkan oleh-Nya bahwa saya hanya memperoleh apapun yang menjadi obsesi dan harapan saya sesuai dengan jumlah kebaikan yang bisa saya cetak, saya himpun dan saya berikan kepada kehidupan ini.

Harga mati yang telah ditetapkan oleh-Nya untuk kita: ”Sesungguhnya rahmat Allah selalu dekat pada orang-orang yang terus menerus berbuat kebaikan”.

Jadi jika siapapun kita bermimpi akan mencapai berbagai sukses ini dan itu dalam kehidupan ini, lalu bertindak santai, seenaknya saja tanpa mutu, tanpa kualitas, dan dengan standar kerja seadanya, serta merasa cukup dengan prestasi kebaikan yang dicapainya, maka mimpi itu tidak akan pernah terwujud.

Ketiga: Saya harus terbiasa bekerja secara kolektif dan kolaboratif.

Kebersamaan, sinergi, dan harmoni menjadi watak kehidupan yang diciptakan Tuhan pada alam ini. Maka bekerja sesuai dengan kodrat alam yang seperti itu, akan memudahkan saya mewujudkan mimpi dan cita cita luhur saya dalam hidup ini.

”Tolong menolonglah dalam kebaikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.”

Mengapa harus begitu? Sebab kebaikan dan taqwa adalah darah daging bagi sehatnya kebersamaan, sinergi. dan harmoni itu.

Kini saya baru menyadari hanya dengan kualitas-kualitas itulah para reformis kemanusiaan –para Nabi dan Rasul– benar-benar selalu mendapatkan jalan keluar dan kemudahan dari setiap kesulitan perjuangan yang mereka hadapi.

Kita pun dapat meneladani keberhasilan kehidupan mereka

Tulis tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *