Saya Belajar dari Kelemahan dan Kesalahan – 1

Aug 15

Kesalahan copy

“Apa yang sudah berlalu tidak mungkin kita ubah, tetapi masih mungkin untuk dipelajari”

Saya seperti juga teman teman semua tumbuh dan belajar banyak dari kesalahan kesalahan masa lalu .Hanya dengan cara itu kita semua bisa tumbuh jauh lebih dewasa dan semakin arif bijaksana

Akan tetapi saya juga tetap merasakan kadar kelemahan kelemahan itu masih tersisa dalam takaran yang bisa saya rasakan sendiri , tetapi kadang kadang teman teman lain yang bisa menunjukkanya kepada saya bahwa saya masih memiliki kelemahan kelemahan itu.

1.Selalu meminta dibelaskasihan.

Ditakdirkan lahir dari seorang ayah tukang becak dan ibu yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga China di Sumenep Madura, saya seringkali menjadikan latar belakang orangtua yang seperti itu sebagai alat untuk memantaskan diri saya bahwa saya pantas selalu dibelakasihani.

Saya merasakan sikap seperti ini masih kebawa bawa hingga saya duduk di bangku SMA 1984-1987.

Tentu saya sangat menghargai teman teman , sahabat sahabat , guru guru saya yang berniat hendak membantu saya.Dan jujur saja ,selama masa masa bersekolah di SD – SMA banyak sekali yang terus menerus membantu saya.Semoga Allah membalas segala ketulusan amal sholeh mereka.

Tetapi sikap minta dibelaskasihani seperti ini dalam rentang waktu lama saya merasakan dapat melumpuhkan semangat saya untuk berdaya dan mandiri .Saya secara bertahap mencoba mengatasinya.

2.Mudah tersinggung Sebagai anak pertama dari 8 bersaudara selain ayah ibu saya , saya tidak memiliki orang yang lebih tua dari saya dikeluarga besar saya untuk saya jadikan model dan idola dalam proses pembentukan kepribadian saya terutama untuk tumbuh sebagai anak yang punya tanggung jawab mengurusi segala urusan pribadi saya.

Ayah dan ibu saya yang berlatarbelakang pendidikan madrasa ibtidaiyah dan SD tentu sangat terbatas membantu pertumbuhan kepribadian saya.

Cara paling mudah yang beliau berdua sering gunakan adalah MARAH MARAH agar saya mau sholat , mengaji , belajar dan mencuci baju sendiri.

Saya lalu tumbuh sebagai anak yang MUDAH SEDIH ,GAMPANG TERSINGGUNG dan TIDAK TAHAN KRITIK

Saya harus bekerja keras untuk bisa mengatasi kondisi kepribadian seperti itu.

Walaupun begitu saya belajar tentang KERJA KERAS dan KEBERANIAN MENGAMBIL RESIKO dari IBU saya serta belajar KELEMBUTAN dan KESANTUNAN dari AYAH saya

InsyaAllah saya sambung ya …

Tulis tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *