Rahasia Tegar Menghadapi Badai Kehidupan

Jul 17

Masih ingat tragedi penembakan Kapal Kemanusiaan dari Turki oleh tentara Israel? Mavimarmara namanya. Dari seluruh penumpang dikapal itu yang mendedikasikan hidupnya untuk menjadi relawan kemanusiaan bagi pengiriman bantuan logistik untuk rakyat Palestina, ada seorang relawan yang berasal dari Indonesia.

Kisah pengakuan relawan ini saya baca di situs detik.com. Yang membuat saya takjub adalah ketika dia mengatakan: “Saya sudah menyiapkan diri seandainya saya ditahan di penjara Israel dalam waktu yang lama.”

Memang apa yang sudah dia persiapkan? Inilah kelanjutan pengakuannya: “Seandainya saya ditahan oleh tentara Israel dalam waktu yang lama, maka saya akan menghabiskan masa masa di penjara bersama tahanan yang ahli dan penghafal Quran. Saya akan belajar Quran darinya, dan akan menghabiskan waktu untuk memahami dan menghafal Quran didalamnya”

Dalam sejarah para pejuang penyampai risalah Ilahi yang sanggup mengatasi kesepian, tekanan, kesendirian, keterpisahan dari orang orang yang dicintai, keterasingan dari kampung halaman, penyiksaan yang melampaui batas di dalam penjara, kejenuhan tiada henti, kekecewaan karena dikhianati dan sebagainya, selalu berisikan cerita nyata tentang hubungan akrab mereka dengan Kitab Suci dari Sang Pencipta Kehidupan.

Mereka mengatasi beratnya gelombangan siksaan terhadap fisik, perasaan dan jiwa mereka, seperti saya sebutkan diatas, dengan cara menenggelamkan diri mereka dalam tilawah, tadabbur, dan tafakkur terhadap ayat ayat suci NYA disaat saat mereka ruku’ dan sujud kepada NYA atau diluar aktifitas itu.

Mereka lalu mendapatkan anugrah ketenangan, keterlindungan, keterlepasan dari kekecewaan dan kesedihan karena terpisah dari orang orang yang mereka cintai, keamanan dan kedamaian karena merasakan dekat dengan Pencipta Kehidupan, kekuatan jiwa yang begitu menakjubkan untuk sanggup menahan segala penyiksaan dalam penjara dan penderitaan di dalamnya.

Nah semoga kita selalu mau bergaul akrab dengan kitab suci NYA itu. Membacanya, memikirkan kandungannya, mewujudkannya dalam kehidupan, kemudian menghimpun dan menjaganya agar lekat dalam pikiran, perasaan dan jiwa kita.

Lalu dengan cara itu semoga diri kita bisa tumbuh menjadi hamba NYA yang kuat untuk berjuang menegakkan kebenaran NYA dimulai dari kehidupan kita masing-masing dan kemudian bergerak menebar aroma kebaikan kepada sesamanya, sembari kita menghalau mendung kesedihan dan penderitaan dari langit kehidupan kita.

Tulis tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *