Perjalanan yang Mengungkap Seberapa Bahagiakah Kita

Feb 07

2013 02 07 +121007 scenery  1219078509ipUEc8A

“Sudah seberapa sering kamu bepergian naik pesawat”

“Mungkin tidak sesering bapak, tapi bagi saya itu sudah terlalu sering”

“Apa yang paling menarik dari bepergian dengan pesawat itu bagimu?”

“Awalnya saya mengira itu adalah kemewahan hidup yang luar biasa sekali bagi saya, tetapi ternyata. . .”

“Ternyata apa?”

“Ternyata dibandara saya masih banyak melihat orang orang yang kurang ceria, tergesa gesa, gelisah, dan terlihat masih belum bahagia. .”

“Kan tidak semua begitu?”

“Iya pak, tetapi saya ingin mengatakan. Di bandara saya bisa memastikan seberapa berhasilkah orang orang itu dari aspek materi, bisa saya lihat dari kendaraan yang mereka gunakan menuju bandara, baju yang mereka kenakan, arloji, handphone, benda benda elektronik lain yang mereka bawa, isi pembicaraan yang terdengar saat mereka menelpon dengan suara agak keras, serta seberapa banyak orang yang melayani dan membantunya mengurus segala keperluan dibandara. .”

“Kalau itu sih saya juga bisa menyimpulkannya dengan mudah. . .”

“Tetapi pak, apakah bapak juga bisa menyimpulkan seberapa bahagiakah orang orang itu dalam hidupnya dengan melihat prilakunya dibandara. . . ?”

“Memangnya kenapa?”

“Bagi saya orang yang kelihatan tidak sabaran dan sering menyalah nyalahkan ini dan itu saat antre mengurus tempat duduk dipesawat, atau saat menunggu dan ngobrol diruang tunggu denga wajah yang tampak tegang dan gelisah biasanya adalah orang yang tidak mudah bahagia pak, dan umumya mereka terlalu menggantungkan kebahagiaan hidup mereka pada kemewahan materi yang mereka miliki. .”

“Bisa saja kamu ini. .”

“Ada lagi pak. . . Bapak pernah mengamati tidak seberapa banyak penumpang yang memilih terlebih dahulu sholat sebelum kedatangan pesawat yang akan mereka naiki?”

“Apanya yang penting untuk diperhatikan. . ?”

“Bagi saya pak, selain yang utama mereka ingin tetap menjalankan kewajiban agama dengan sebaik mungkin dimanapun dan kapanpun, penumpang penumpang seperti itu adalah penumpang yang selalu ingin menemukan rasa tenang, terlindungi, dan aman dengan ruku ‘ dan sujud mereka itu selama dalam perjalanan dengan pesawat”

“Lalu. . . ?”

“Dalam kehidupan normalpun begitu. Mereka yang tetap dan lebih memilih menjaga disiplin ruku dan sujud kepada NYA, serta selalu menghubungkan pikiran, perasaan, hati dan jiwanya kepada SANG PENCIPTA dengan cara selalu mengingati dan menyebut nama dan ayat ayat NYA, adalah orang orang yang tidak mudah tergoncang oleh tertundanya jadwal kedatangan dan keberangkatan PESAWAT SUKSES KEHIDUPAN mereka. Mereka tidak sering menampakkan kekecewaan dan kegelisahan atas berbagai ketidaksempurnaan selama PERJALANAN HIDUP mereka, karena mereka sadar memilih BERSIKAP TENANG, TERKENDALI, JERNIH BERPIKIR, dan BERTINDAK dengan selalu MEMINTA BIMBINGAN dan PERLINDUNGAN dari YANG MAHA BERKUASA atas segala sesuatu adalah CARA TERBAIK MENIKMATI PERJALANAN HIDUP. .”

“Aha dalam sekali pengamatanmu. . .”

“Itu sih pengamatan subjektif saya. . Bapak boleh saja berbeda pendapat dengan saya. . .”

“Kalau menurutku perjalanan dengan kendaraan apa saja selalu menunjukkan fenomena seperti pengamatanmu itu. . . Perjalanan kehidupan pun juga begitu kan?”

“Ya benar, sepakat pak

Tulis tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *