Panglima Perang yang Menutup Hidupnya dengan Manis

Nov 14

Sudirman12

“Sejarah menyebutnya sebagai Panglima Besar, karena ia memiliki kebesaran jiwa untuk tidak menyerah pada keadaan dirinya yang sakit parah ketika berjuang, dan tidak mau takluk kepada penjajah negri yang dicintainya”

Siapa Panglima Besar itu?

Dia tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang penuh disiplin sejak kecil, dikenal sangat rajin dan p

andai ketika sejak sekolah dasar.

Pada saat menempuh sekolah MULO setingkat sekolah menengah waktu itu, pelajaran agama menjadi salah pelajaran yang sangat ditekuninya. Saking tekunnya pada pelajaran agama iti ia diberi julukan KAJI atau HAJI.

Kedisiplinannya tertempa semakin matang saat di menjadi anggota Hizbul Wathan organisasi kepanduan milik Muhammadiyah yang dimasukinya waktu dirinya memasuki masa remaja.

Pada umur 29 tahun ia sudah dipilih menjadi PANGLIMA ANGKATAN BERSENJATA yang uniknya dipilih secara demokratis diantara para komandan dari berbagai daerah

Suatu saat pada 17 Desember 1948 secara ajaib Panglima Besar itu tiba tiba bisa bangkit dari tempat tidurnya padahal sebelumnya ia selalu terbaring di tempat tidur karena sakit. Ya karena sakit.

Ketika ditanya mengapa ia tiba tiba bisa bangkit, padahal kondisi tubuhnya begitu lelah dan lemah, ia mengatakan bahwa ia memiliki firasat bahwa Belanda akan melakukan agresi.

Firasat itu benar. Dua hari kemudian, Belanda datang dan membombardir Yogya.

Dengan separuh paru paru karena kelelahan penyakit yang diderita sebelumnya dan diusung tandu secara bergantian oleh anak buahnya, hampir delapan bulan, Panglima Besar itu keluar masuk hutan memimpin gerilya dari luar Yogya melawan agresi Belanda.

Di detik detik terakhir hidupnya Panglima Besar yang tubuhnya semakin lemah dan hanya tinggal kulit dan tulang minta dituntun mengucapkan kalimat syahadat.

Putera laki lakinya meriwayatkan,”Satu kalimat terucap, Bapak kemudian mangkat (meninggal).”

Lebih lengkapnya penuturan istrinya, Alfiah. Menurutnya selepas sholat maghrib pada 29 Januari 1950, Panglima Besar itu memanggil dirinya ke kamar dan berkata,”Bu, aku sudah tidak kuat. Titip anak anak. Tolong aku dibimbing tahlil.”

Alfiah menuntunnya mengucap Laa Ilaaha Illallah, dan Panglima Besar itu menghebuskan nafas terakhir, menutup hidupnya dengan manis. Dalam keadaan husnul khotimah Panglima Besar itu menemui SANG PENCIPTA.

Panglima Besar itu wafat dalam usia muda, 34 tahun. Panglima Besar itu adalah JENDRAL SOEDIRMAN.

Teman teman semoga pada pergantian tahun hijriyah besok, kita putra putri Indonesia bisa meneladani dan meneruskan SEMANGAT JUANG dan KEPAHLAWANANNYA untuk membawa negri ini menjadi negri yang BALDATUN THOYYIBATUN WA RABBUN GHAFUR

Tulis tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *