Pada-Mu Kubersujud

Apr 29

2013 04 29 +289633 2536e30515f134ac95afb9c2a0d7bf08 large

Sebuah sms masuk kedalam handphone nya
“Ayah 3 hari lagi aku harus bayar spp kuliahku”.

Laki laki itu sengaja tidak segera mau membalas sms anak laki lakinya yang sedang kuliah jauh dari kota tempat tinggalnya.

Setengah jam kemudian handphone laki laki itu berdering. Ayahnya yang tinggal bersama ibu tercintanya didesa kelahirannya mendadak memanggilnya.

“Nak kalau ada waktu pulanglah dulu ya, ibumu sedang sakit”

Laki laki menahan nafasnya lalu menjawab,”InsyaAllah yah”dengan suara santun.

Sebelum sore laki laki itu segera berkemas untuk berangkat menjenguk ibu tercintanya yang sedang sakit.

Selepas shoat ashar ketika dia hendak berangkat kerumah orang tuanya, tiba tiba sebuah panggilan masuk ke handphone nya.

Tadinya ia tidak hendak mengangkat panggilan itu, akan tetapi begitu tahu bahwa no handphone yang memanggilnya adalah no dari kolega bisnis disebuah perusahaan yang menjanjikan sebuah proyek kepadanya, laki laki itu akhirnya mengangkat dan menjawabnya

“Assalamu’alaikum Pak. Maaf Pak saya sedang dalam perjalanan pulang kekampung halaman saya. Bagaimana Pak kabarnya?Semoga selalu diberi kesehatan dan kelancaran urusan oleh Allah. , Pak. . . . . . . . . . . . . Pak, bisa diulangi lagi. Suara Bapak tidak terdengar begitu jelas disini. . . . . Nah ini sudah kedengaran jelas. . . . . . Apa Pak proyeknya tidak jadi dimulai bulan depan?. . . . Jadinya perlu menunggu setahun lagi begitu maksudnya Pak?. Baik Pak kalau begitu. . . . . . . . .”

Laki laki itu dalam sehari telah menerima kabar yang secara beruntun telah membuat pikiran, perasaan, hati dan jiwanya tertindih beban hidup yang bertambah banyak serta semakin berat, karena dua hari sebelumnya ia menghadapi berbagai protes dan ketidakpuasan dari orang orang yang bekerja dengannya.

Pikiran, perasaan, hati dan jiwa laki laki itu terasa terus terbebani, hingga ketika tiba pada jarak sekitar 5 kilometer dari rumah ayah ibunya laki laki itu berpapasan dengan sejumlah para pencari kayu bakar yang duduk melepas lelah, dibawah sebuah pohon yang sangat teduh, untuk menyegarkan diri agar sanggup memikul kembali beban berat kayu bakar yang dicarinya dari hutan dekat desanya.

Tiba tiba laki laki itu berkata lirih.
“Seperti para pencari kayu itu, saya harus mengambil waktu untuk mengistirahatkan pikiran, perasaan, hati dan jiwaku agar kembali menjadi segar dan kembali bertenaga sehingga kembali sanggup memikul beban perjuangan hidup saya selama ini”. .

Laki laki itu memanjangkan ruku’ sujudnya kepada Allah saat dia menunaikan sholat maghrib jama’ qashor dengan isya’ di masjid desa ayah ibunya.

Laki laki itu merasakan kekeruhan pikirannya, kering kerontang perasaannya, kesempitan hatinya dan keringkihan jiwanya berangsur angsur berkurang dan terus berkurang.

Laki laki itu tidak ingin berhenti hingga disitu. Dia ingin meraih kembali seluruh kekuatan jiwa raganya dari Alllah. Bahkan dia berharap kepada Nya mendapatkan lebih banyak lagi kekuatan yang dialirkan Nya kedalam dirinya.

Maka setelah ruku’ sujudnya dia lalu menenggelamkan diri dalam kenikmatan berdzikir menyebut dan mengagungkan nama Nya.

Tulis tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *