Mewujudkan cita cita agung yang gagal terwujud selama 800 tahun sebelumnya

Jun 04

2014-06-04 al fatih

Para pendahulunya telah berkali kali
berusaha menaklukkan kota itu.

Pada masa Ustman bin Affan di tahun 653 M
penaklukkan pertama dilakukan tetapi gagal.

Saat Muawiyah berkuasa
usaha penaklukan kedua tepatnya di tahun 664 M
dilancarkan lagi, namun gagal juga.

Muawiyah mencoba lagi pada tahun 669 M
untuk menaklukkan kota itu selama 7 tahun pengepungan
tetapi berakhir dengan penarikan pasukannya pada 678 M.

Lalu pada masa Sulaiman ibn Abdul Malik
tepatnya dari tahun 715 M-717 M
dicoba lagi untuk menaklukkan kota itu
tetapi lagi lagi tidak berhasil.

Pada tahun 783 M usaha untuk menaklukkan kota itu
dirintis oleh Harun Al Rasyid dari Dinasti Abbassiyah
tetapi hanya berakhir dengan perjanjian damai
yang mewajibkan kota itu membayar upeti tahunan pada Dinasti Abbasiyah
namun kota itu tetap tidak bisa dikuasai.

Dalam kurun 600 tahun kemudian
tepatnya di tahun 1395 M, saat Sultan Bayazid berkuasa
penaklukan dan pengepungan terhadap kota itu masih juga tidak berhasil.

Hingga kemudian seorang laki laki gemblengan ulama ulama robbani terkemuka
putra ke 3 Sultan Murad II, Muhammad Al Fatih namanya
di tahun 1453 melakukan upaya penaklukan yang fenomenal
dan kelak sejarah mencatatnya dengan tinta emas atas keberhasilannya.

Al Fatih memimpin 250. 000 pasukan
dan sekitar 180 kapal perang.

Tiga kali Al Fatih mengalami kekalahan
dalam satu kali perang darat dan dua kali perang laut.
Jumlah korban pasukannya ribuan. . . banyak sekali.
Walaupun jumlah korban jatuh di pihak lawan juga terus bertambah.

Beberapa orang dekatnya memintanya untuk menarik kembali pasukannya
menjelaskan betapa besarnya kerugian yang akan ditanggungnnya
jika terus memaksakan penaklukan kota itu
apa lagi para pendahulu Al Fatih tidak ada satupun yang berhasil.
Dan pada saat yang sama pesisme, kelelahan berperang, serta menurunnya rasa percaya diri perlahan perlahan mulai merasuki pasukannya.

Al Fatih tidak terpancing dan tidak terpengaruh
oleh melemahnya semangat juang yang sebenarnya
hanya muncul dari sedikit orang orang pentingnya
serta dari sebagian kecil pasukannya.

Al Fatih masih mengerti betul
sebagian besar pasukannya masih ingin meneruskan perjuangan
menaklukkan kota itu.

Imannya yang kuat kepada kepastian pertolongan
yang akan datang dari Rabbul Alamin. . . . . .
Jiwa nya yang kokoh terhubung dengan NYA
melalui ruku’ sujudnya yang khsuyu’ dan panjang pada NYA. . . .
Gelora semangatnya yang ingin mewujudkan
kebenaran ramalan Rasulullah SAW
bahwa penakluk kota itu adalah sebaik baik pemimpin
dan pasukan yang berjuang bersama adalah sebaik baik pasukan. . . .
Serta dukungan para ulama ulama Robbani
yang selalu membakar semangat juangnya. .

Membuatnya berani melakukan
startegi penaklukan yang dianggap gila
dan tak pernah terbayangkan sebelumnya. .

Dalam semalam 70 kapal perangnya
berhasil dipindahkan secara luar biasa dengan teknik yang mengagumkan
melalu jalan darat perbukitan hingga berada di titik serang
terhadap benteng lawan di kota itu.

Dari moment inilah Al Fatih berhasil menumbuhkan
kepercayaan diri yang luar biasa mengagumkannya
bahwa kota itu tidak akan lama lagi
akan bisa ditaklukkan.

Pada Senin 28 Mei 1453
Al Fatih meminta seluruh pasukannya berpuasa sunnah.
Dan pada malam harinya Al Fatih memimpin langsung
sholat tahajjud seluruh armada tempurnya.
Lalu pada Selasa 29 Mei 1453
dengan kekuatan ruhani yang luar biasa membaranya
dan dengan dukungan pasukan serta logistik perang
yang begitu menggetarkan lawannya
akhirnya berhasil menaklukkan kota itu. . kota Konstantinopel.
Dan menaklukkan hati para penghuninya
dengan menjamin keamanan bagi mereka
untuk tetap hidup bebas menjalankan agama mereka masing masing.

Saya ceritakan ulang sejarah agung ini
agar saya dan teman teman semua tidak mudah menyerah
dan mau terus lebih keras berjuang
menghadapi segala yang akan menghancurkan kita.

Tulis tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *