Memaksimalkan Saat Saat Sendiri

Feb 27

2013 02 27 +574864 cdaedf9eb1c0df2e6e64228ef4e9b469 large

“Sebenarnya saya dan dirimu mengalami saat saat sendiri sesering yang dialami orang lain, tetapi mengapa masing masing kita mendapatkan hasil hasil yang berbeda dari saat saat sendiri nya?”

“Itu disebabkan karena dua hal. Pertama apakah pada saat saat sendirian seseorang itu melakukan hal hal yang bisa memajukan dirinya atau tidak. Dan yang kedua adalah fokus perhatian orang pada saat sendirian berbeda beda”

“Penyebab pertama bisa saya mengeri, tetapi apa maksud dari penyebab kedua?”

“Pada saat sendiriaan, tidak otomatis orang mau mengarahkan perhatiannya pada dirinya sendiri. Pada saat seperti itu orang sering memikirkan uang yang harus dicarinya, rumah yang harus dibangunnya, usaha yang harus dibesarkannya, anak anak yang harus disekolannya, ayah ibu yang harus dibantunya dan sebagainya”

“Bukankah itu benar untuk diperhatikan?”

“Ya saya juga sepakat. Tetapi sebenarnya ada yang lebih penting untuk diperhitungkan”

“Apa itu?”

“Saat saat sendiri sebelum memikirkan yang lain, semestinya seseorang lebih terdahulu harus memikirkan seberapa besar KEKUATAN, DAYA TAHAN dan KONSISTENSI dirinya dalam mengangkat dan memikul tanggung jawab hidupnya, serta SEBERAPA LURUS dan BENAR dia melakukan semua itu”

“Bisa lebih detail lagi?”

“Dengan memikirkan itu terlebih dahulu, ia bisa menghitung dengan lebih akurat seberapa besar lagi ia harus melipatgandakan keyakinan, kesabaran, ketegaran, kegigihan, optimisme, tanggungjawab, ketenangan, kejernihan berpikir, semangat, ketulusan, kepasrahan serta sifat sifat unggul lain yang harus ditanam lebih kuat didalam didirinya agar ia bisa mengurus uang yang harus dicarinya, rumah yang harus dibangunnya, usaha yang harus dibesarkannya, anak anak yang harus disekolannya, ayah ibu yang harus dibantunya dan tanggungjawab lainnya dengan cara LEBIH INTENSIF, LEBIH BERKUALITAS dan LEBIH LURUS lagi”

“Hmmm penjelasan yang sangat masuk akal”

“Selanjutnya apa?”

“Ha, nanti saja, bagaimana kalau kita makan siang dulu?”

“Boleh. Tapi janji ya. Selepas makan siang nanti kita lanjutkan diskusi kita”

“Ok. Sepakat. InsyaAllah”

Tulis tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *