Matahari Kehidupan yang Terus Bersinar

Dec 26

2012 12 26 Screen Shot 2012 12 26 at 07 51 17

“Dengan segala cara ia berjuang agar tetap bisa memberi terang pada kegelapan disekitarnya”

Seperti Dedy Sukardy yang sekelumit kisah perjuangannya saya ceritakan kemarin, wanita yang biasa dipanggil Bu Yan ini adalah matahari kehidupan lain yang ingin saya bagikan kisah hidup pengorbanannya yang menakjubkan kepada teman teman semua.

Perempuan bernama asli Siti Fauzanah ini adalah pendiri Puskesmas Matematika di kediamannya di Kampung Ngempo Lor, Kelurahan Parakan, Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung. Ia dahulu guru Matematika di SMPN 1 Parakan. Kini walau pensiun ia masih diminta mengajar di sekolah itu karena memang berpengalaman mengurus anak anak untuk mencintai Matematika lewat Puskesmas Matematikanya itu.

Puskesmas Matematika adalah nama yang ia berikan untuk ruang tamu rumahnya yang sederhana yang digunakannya untuk membantu anak anak yang mengalami kesulitan belajar matematika.

Puskesmas Matematika yang didirikan sejak 1974 sebenarnya diniatkan untuk membantu anak anak tetangganya yang susah sekali memahami Matematika. Ketika Puskesmas Matematikanya didirikan wanita kelahiran 14 Mei 1947 itu juga secara menakjubkan mengangkat dan memiliki 18 anak asuh.

Saat ditanya mengapa dengan gaji sebagai guru Matematika yang besarnya tidak seberapa, ia mau dan berani membiayai anak anak asuhnya

“Kesedihan orang yang tidak ada biayanya untuk sekolah, ia akan kehilangan masa depan”, itu jawaban yang menggambarkan kepeduliannya.

Dan ketika ditanya bagaimana dia membagi gajinya yang besarnya tidak seberapa, untuk anak anak asuhnya. Secara mengejutkan ia menjawab dengan mata berkaca kaca,”Sambil jadi pengemis”.

Itu jawaban yang menggambarkan pengorbanannya yang luar biasa agar ia tetap bisa dan mampu menolong anak anak asuhnya.

Atas jawaban itu, sang penanya berkomentar,”Oh itu yang ibu pakai untuk menolong pembiayaan anak anak ya?”

Bu Yan dengan tulus menjawab,”Tidak menolong pak, yang menolong anak anak itu adalah orang orang, bukan saya”

“Sampai kapan Bu Yan akan tetap mengajar anak anak di Puskesmas Matematika ini?”

“Ya sampaiiii. . . , selagi nyawa dikandung badan”.

Padahal dari Puskesmas Matematika itu ia tidak mendapatkan keuntungan materiil apa apa, walaupun ia berjam jam setiap harinya duduk menemani dan mengajarkan matematika pada murid murid di Puskesmasnya itu. Uang yang ditariknya dari murid muridnya yang mampu, hanyalah untuk menutupi kebutuhan membayar tagihan PLN dan PDAM. Ia merasa cukup menghidupi dirinya dengan uang pensiunnya sebagai guru Matematika di SMPN 1 Parakan Temanggung.

Kini dukungan atas perjuangan dan pengorbanannya yang luar biasa itu datang dari berbagai pihak. Bu Yan dibangunkan rumah yang jauh lebih bagus untuk Puskesmas Matematika nya itu, tak jauh dari kediamannya.

Teman teman Pak Dedy Sukardi yang kemarin saya ceritakan, dan Bu Yan yang hari ini saya tuturkan adalah dua matahari kehidupan yang menyinarkan semburat kepekaan, kepedulian, tanggungjawab, ketulusan, keberanian, kerja keras, pengorbanan, kedisiplinan, konsistensi dan kerendah hatian kepada kehidupan orang orang lain yang hendak mereka majukan.

Tulis tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *