Keteguhan dan Cinta yang Memberi Daya Tahan

Nov 12

+1257248640UCBvqsA

“Selalu ada orang yang akan engkau temukan yang mengajarimu bagaimana berjuang hidup dengan penuh keteguhan, kesetiaan, cinta dan kasih sayang”

Hari ini memasuki hari ke 21 saya mengantar dan menemani istri menjalani radiotherapy dii Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) Surabaya dari 30 kali yang direncanakan.

Pasca menjalani operasi 22 Mei 2012 dan melakukan pengobatan kemoterapi sebanyak 6 kali, istri memang harus menjalani radiotherapi (terapi sinar) di RSAL. Alhamdulillah perkembangannya semakin signifikan.

Di RSAL ini saya semakin menyadari dua hal:

Pertama: Bertambah banyak istri dan saya yang mendampinginya berobat, bertemu dengan para pasien yang menjalani radiotherapi dengan kondisi penyakitnya yang berbeda beda, bertambah lapangdada serta lebih berbesar jiwalah istri menerima kondisi dirinya.

Ada banyak cerita pasien dan keluarga pengantarnya yang begitu berkesan bagi kami.

Ada Pak Yanto yang menemani istrinya berobat, yang selalu menjadi penyemangat para penderita kanker yang lain yang sedang menjalani radiotherapi di RSAL itu.

Saat antri menunggu giliran menjalani radiotherapi, beliau berbicara dari hati ke hati kepada semua orang yang ditemuinya diruang tunggu di RSAL itu agar kami semua tetap optimis, saling mendukung, saling membantu dan saling menguatkan satu dengan yang lain.

Secara perlahan cara dan sikap Pak Yanto ini menulari dan menggerakkan kami semua untuk menjadi penyemangat, penguat, pengokoh dan pendukung bagi pasien bersama keluarganya yang baru menjalani radiotherapi setelah kami.

Kami saling berbagi informasi prosedur pengobatan, alternatif obat herbal tambahan yang harus diminum, bahkan juga tentang riwayat penyakit dan operasinya, serta dimana kami tinggal selama menjalani radiotherapi yang rata rata membutuhkan waktu 30 hari, sebab banyak yang berasal dari luar kota dan luar pulau.

Kedua: Cara kami memandang dan bersikap terhadap penyakit yang diderita berubah bertambah semakin baik dan dewasa setelah mengalami interaksi yang intensif itu.

Saya sendiri secara pribadi berusaha menghimpun lebih banyak informasi tentang para penderita kanker dan kelurga pendampinya yang menjalani pengobatan melalui kemoterapi dan radiotherapi.

Dan yang jauh lebih utama yang saya pelajari adalah cara mereka BERSIKAP terhadap penyakit itu.

Salah satunya adalah apa yang dituturkan oleh seorang ayah tentang anaknya yang bercerita kepada teman dekatnya tentang kondisi ibunya setelah menjalani operasi kanker payudara.

Anak itu mengungkapkan kepada temannya setelah melihat ibunya pasca operasi dan proses kemoterapi dan radiotherapi yang dijalaninya:

“Ibuku tidak punya payudara, tidak punya rahim, dan tidak punya ranbut, tapi ayahku tetap mencintainya. Seperti itulah cinta yang kuinginkan”

Ya Robbi semoga kami semakin teguh, sabar serta berlimpah kasih sayang dan cinta menjalani takdir kehidupan kami masing masing.

Tulis tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *