Kesaksian Aneh Tembok

Oct 09

2013 10 10 Concrete wall

Di sebuah kamar tidur ukuran 3 x 3 meter persegi di rumah milik Akhmad Arqom tiba tiba terjadi keanehan. Tembok tembok di kamar tidur itu tiba tiba ngobrolin Akhmad Arqom sang pemilik rumah itu

Tembok 1: “Hei coba kau lihat majikan kita tuh. . kok sudah siang begini masih malasan malasan di kamar ini”.

Tembok 2: “Iya tuh. . . mimpi dan harapan hidupnya besar besar, tapi mental dan cara berpikirnya kecil sekali ukurannya”

Tembok 3: “Hei. . . hei. . hei kok bisa bisanya kamu ngerasani dia seperti itu. . memang kamu punya bukti?

Tembok 2: “Lho. . kemarin pas dia berdoa dikamar ini apa kamu ndak dengar? Kan dia mengucapkan doanya agak keras sampai kita semua mendengar.

Tembok 1: “Oh ya. . . benar. . benar. Aku ingat sekarang. Dia kan berdoa Ya Allah berilah aku rezeki yang berlimpah sehingga aku bisa menyekolahkan anak anakku dan membantu anak anak yatim di desa ini. . . .”

Tembok 3: “Setahu saya majikan kita ini doanya banyak. Bukan cuma soal rezeki yang diminta. Kadang dia minta dimuluskan usahanya oleh Allah. Dan dikesempatan yang lain dia minta agar bisa menjadi hamba Allah yang sholeh. .”

Tembok 1: “Lha kalau yang dia minta kepada Allah banyak sekali. . kenapa kebiasaan hidupnya begitu. . . Masa’ siang siang begini dia malas malasan dengan tiduran begitu. .”

Tembok 2: “Hei. . . kawan, orang orang yang setipe dengan majikan kita ini jumlahnya sangat buaaaanyak. Mereka punya mimpi, harapan dan permintaan ini dan itu pada Allah, tapi tidak mau memperbaiki keyakinan hidup, cara berpikir, sikap dan kebiasaan kebiasaan hidupnya menjadi lebih unggul. . .”

Tembok 3: “Ha. . . ha. . ha kamu ini kan hanya tembok tapi ngomongnya mirip manusia yang ahli pengembangan SDM. .”

Tembok 2: “Sori. . . kawan. Biar aku tembok tapi saat majikan kita ini menggeletakkan buku yang sering dibawanya dikamar ini dan posisinya dengan diriku, aku menyempatkan ngintip membacanya. .”

Tembok 1: “Sudah. . sudah. . . ndak perlu berdebat soal itu. . lebih baik kita mencari cara bagaimana menyampaikan keprihatinan kita semua kepada majikan kita ini. .”

Tembok 3: “Aku belum punya ide. . .”

Tembok 4: “Aku juga. . walaupun dari tadi aku hanya mendengar kalian ngerasani majikan kita ini. . aku hanya berharap majikan kita ini akan segera sadar. . .”

Tembok 2: “Aku juga ndak punya usulan. . . tapi minimal jika majikan kita ini melihat umur kita yang sudah lebih dari 15 tahun sejak rumah ini didirikan dan kita sering mengalami kekeroposan mudah mudahan majikan kita ini mulai menemukan kesadarannya. . .”

(Cerita imajinatif untuk mengingatkan saya)

Tulis tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *