Kelumpuhan pun Tidak Bisa Menghentikannya

Apr 03

2013 03 22 +202876 c29b50c1ca8e1e69073aefe474f40d20 large

Jika anda diantara kita sering hendak berhenti berjuang ketika dihadang oleh bertubi tubi kesulitan, semoga kutipan kisah berikut dari buku baru saya THE MIRACLE OF LOVE PRAY AND CHARACTER bisa melecutkan kembali semangat kita. . . .

“Jika iman akan selalu memberimu kekuatan
menakjubkan untuk berjuang mengatasi kesulitan hidup,
maka kasih sayang akan memberimu kepedulian untuk
membantu sesama dengan tulus”

Adalah Purwanti reporter dan wartawati Majalah TARBAWI yang berhasil menemui mutiara kemilau ini pada Desember 2009. Een Sukaesih namanya. Hingga wartawati Majalah TARBAWI itu berhasil mewawancarainya, wanita menakjubkan itu sudah 22 tahun lumpuh, tetapi masih tetap bisa mengajar dari tempat tidur.

Ya begitulah faktanya teman teman.

Sejak remaja dia sudah terkena penyakit RHEMATOID ARTHRITIS, sebuah penyakit rematik yang belum diketahui penyebabnya dan belum diketahui obatnya. Serangan penyakit ini bermula mengenai kedua tangannya yang tiba-tiba tidak bisa diangkat dan digerakkan. Karena jika digerakkan terasa sangat sakit.

Walau tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya, kecuali obat yang sekedar meredakan atau menghilangkan rasa sakit, Een Sukaesih pantang menyerah. Dalam keadaan sesakit itu ia berhasil menamatkan sekolah SPG (Sekolah Pendidikan Guru) nya, dan berhasil mengikuti tes serta diterima sebagai mahasiswi Program D3 IKIP Bandung Jurusan Bimbingan Penyuluhan.

Tahun terus berjalan, tubuh Een semakin parah kondisinya, semakin lama tulang tubuhnya semakin
berubah bentuk seperti bengkok bengkok pada jari tangannya. Meski begitu, Een berhasil lulus dari IKIP Bandung lalu mendaftar PNS, diterima dan akhirnya dipanggil untuk mengajar di SMA Sindang Laut di Cirebon pada 1987.

Setelah satu bulan mengajar, Allah mengujinya lebih berat lagi. Kedua kakinya lemas dan akhirnya tidak mampu
berdiri lagi. Sejak saat itu ia hanya melewati hidup nya dengan berbaring.

Akan tetapi nyali hidupnya besar. Semangat dan bara kemauannya untuk tetap bisa menjadi manusia berdaya
guna selalu berkobar kobar. Ia memilih mendedikasikan hidupnya mengajar sambil berbaring. Ya sambil berbaring teman, karena tubuhnya sudah lumpuh. Dengan segenap ketulusan, gelora kasih sayang, serta tanggung jawbanya dibimbinglah anak anak tetangganya yang satu persatu mendatanginya minta dibantu
mengerjakan PR sekolahnya.

Dikamarnya yang hanya berukuran 2 x3 meter persegi dia dengan telaten menampung, mengajari dan membimbing hingga 10 anak perharinya. Karena tidak ada papan tulis, Een akhirnya menggunakan tembok rumahnya sebagai media bagi murid muridnya itu untuk menulis, menghitung dengan bimbingan Een. Setelah semua tembok itu penuh dengan tulisan, murid murid itu dimintanya menghapus kembali tulisan tulisan itu, agar bisa dipakai untuk menghitung dan menulis lagi.

Ketika akhirnya seorang bupati datang mengunjunginya, Een justeru tidak bisa berkata kata untuk mengutarakan
keinginannya. Ia terharu. Kata katanya tidak bisa keluar. Pamannyalah yang akhirnya menyampaikan bahwa Een
sangat suka mengajari anak anak dan ia sangat membutuhkan whiteboard.

Tetapi teman walau tidak ada obat yang bisa menghentikan daya serang penyakit ditubuhnya, ia mengaku seperti ini:”Saya sering menangis kalau anak anak sudah pulang. Sepi sekali rasanya tidak ada teman lagi. Kalau ada yang menjenguk, kadang saya suka merenung apakah saya akan dipertemukan lagi atau tidak. . .

“Sekarang jika sakit itu menyerang, saya membaca hafalan ayat ayat Al Quran. Biasanya dengan begitu saya akan tertidur dengan sendirinya dan sakit tidak lagi saya rasakan. .”

Ya Allah pagi ini kutulis ulang perjalan hidup hamba MU yang menakjubkan ini, agar kami bisa bercermin kepada ketegarannya, belajar dari mimpi mulyanya untuk selalu berguna bagi sesama.

Teman jangan menyerah. Dalam sedih dan derita panjang bawalah dirimu dekat dengan NYA.
Dalam sendiri sepi, hibur, tegarkan dan damaikan jiwamu dengan ayat ayat NYA

Tulis tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *