Jebakan Mematikan: Minta Diakui dan Dipuji

Aug 16

Pujian bagi Tuhan

(Saya Belajar dari Kesalahan dan Kelemahan – bagian ke-2)

Sebagai pribadi yang terus tumbuh dalam warna warni interaksi kemanusiaan saya mengalami apa yang selalu dialami oleh banyak orang yang berhasil meraih prestasi dalam hidupnya.

Jika dibandingkan dengan banyak pelajar beprestasi lainnya, saya tidak ada apa apanya.

Sejak SD dari kelas 4 hingga kelas 6 saya memang meraih rangking 1 dikelas. Tapi SD saya hanya SD yang ada di desa yang jauh dari pusat kecamatan.

Ketika di SMP pun saya memang berprestasi tapi kali ini hanya masuk dalam 5 besar di kelas dan bukan 5 besar secara paralel kelas .

Baru ketika saya menjadi siswa SMAN 1 Sumenep saya kembali menjadi peraih rangking 1 tingkat kelas sejak kelas I hingga kelas III SMA. Dan sekali lagi bukan peraih rangking tingkat sekolah

Nah diluar itu ada 3 prestasi yang saya raih waktu saya SMA. Rinciannya 2 kali saya menjadi juara 1 pada Lomba Lari 4 km di dua desa pada peringatan hari kemerdekaan RI pada tahun 1986.Lalu pada 1987 saya bersyukur bisa menjadi juara pertama Lomba Matematika tingkat Jawa Timur yang diadakan oleh PBNU Jawa Timur.Sebenarnya biasa biasa saja sih prestasi itu .

Akan tetapi baru berprestasi seperti itu saja saya sudah mulai merasakan dampak psikologisnya. Saya mulai merasakan manis dan nikmatnya dipuji dan disanjung.

Saya merasakan sanjungan dan pujian itu mulai menggoda perasaan dan pikiran saya untuk hanya mengejarnya semata.

Tidak mudah bagi saya untuk tetap menjaga kelurusan niat dan orientasi dalam belajar, bekerja dan mengejar berprestasi.

Begitu saya terperangkap dalam pusaran pengejaran memperoleh pujian , sanjungan, dan agar jadi bahan perbincangan banyak teman, saya merasakan diri saya tidak lebih dari sekedar SELEMBAR DAUN KERING yang tidak berdaya diterpa dan dipermainkan badai kesana kemari tanpa bisa bertahan secara kokoh.

Saya mulai belajar menghayati makna IKHLASH dalam hidup ini dan berusaha secara sungguh sungguh menjadikannya sebagai PAKAIAN PELINDUNG JIWA RAGA saya, apa lagi ketika kemudian bersama Lembaga Manajemen Trustco Surabaya yang saya kelola selangkah demi selangkah saya dimudahkan oleh ALLAH untuk bisa menulis dan menghasilkan 7 buah buku tentang pengembangan SDM.

PUJIAN, SANJUNGAN, PERNYATAAN SALUT dan KEKAGUMAN yang sebenarnya disampaikan secara tulus oleh orang lain kepada saya sewaktu waktu jika tidak saya waspadai ,bisa menjadi JEBAKAN MEMATIKAN dan MENGHANCURKAN yang merusak dan melemahkan hidup saya dan menyirnakan balasan mulia disisi NYA

Seperti yang telah ditetapkan dalam kita sucinya, seorang hamba yang IKHLASH dalam pengabdian kepada NYA adalah seorang yang TIDAK BISA DIBENDUNG,TIDAK BISA DIJATUHKAN dan TIDAK BISA DIBELOKKAN dari jalan suci NYA.

Saya ingin bisa menjadi hamba NYA yang IKHLASH selalu. Mohon doanya teman teman semua.

Satu komentar

  1. kalimat ini memang sering saya temui”DIPUJI/DIAKUI”, bahkan sampai sekarang pun sy sering mendapat curhat dari adik2 mahasiswa/SMA akan fenomena ini. Saya menjawabnya cukup simple, hidup itu belajar ikhlas saudaraku, dan semuanya yg kita jalani ini adalah proses belajar, jadi setiap kita memulai sesuatu maka kita wajib menata niat kita kembali.

Tulis tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *