Inilah Rambu Jalan Perjuanganku

Dec 12

2012 12 12 +scenery 0 1226254135K696mgk

“TUHAN, kalimat pintaku kepada MU sekaligus menjadi rambu rambu jalanku dalam memperbaiki hidupku diatas jalan MU”

Saat aku membaca: Rabbigh firlii. . . warhamnii. . wajburnii. . warfa’nii. . warzuqnii. . wahdinii, . . . aku menyadari bahwa potongan potongan kata dalam kalimat doa itu sekaligus menjadi rambu rambu jalan bagiku untuk bergerak memajukan hidupku selangkah demi selangkah diatas jalan TUHAN ku.

Aku menyadari bahwa tidak akan pernah ada kemajuan apa apa dalam hidupku jika aku tidak pernah bisa melepaskan diri dari berbagai kesalahan kepada NYA dan kepada sesama.

Sebab kesalahan hanya akan memboroskan sumberdaya waktu, tenaga, pikiran dan harta untuk segala sesuatu yang pasti semakin merugikanku. . dan mendatangkan murka TUHAN kepadaku

Begitulah aku menghayati ucapan: RABBIGHFIRLII ku.

Dengan sekuat tenagaku aku berusaha agar selalu mendapatkan dukungan kasih sayang PENCIPTAKU dan orang orang yang di sekitarku dengan segenap karya kebaikanku yang kulakukan atas nama NYA untuk semua hamba hamba NYA

Itulah makna yang kuserap dari ucapanku: WARHAMNII (kasih sayangilah diriku)

Ucapan WAJBURNI ku mengingatkanku untuk bersungguh sungguh melakukan perbaikan besara besaran dalam diri dan hidupku agar mimpi kemajuan hidupku bisa terwujud dari NYA untukku

Mengapa begitu? Sebab WAJBURNI sepengetahuanku bermakna: Perbaikilah keadaanku

Pada saat ucapanku tiba pada WARFA’NII (angkatlah derajatku), aku mengingat kuat ketentuan NYA untukku dan untukmu juga, bahwa derajat, kemulyaan, pangkat, dan martabat hanya bisa diraih jika aku dan dirimu membekali diri dengan KEYAKINAN dan ILMU yang menyertai kerja tulusku dan kerja tulusmu.

Dan ketika kemudian aku tiba pada ucapan WARZUQNII (berilah aku rezeki), aku terngiang kembali dengan ucapan UMAR bin KHATTAB:”Jangan ada diantara kalian yang hanya mau duduk duduk saja, sementara doanya Ya ALLAH berilah aku rezeki, padahal kalian tahu TUHAN tidak pernah menurunkan hujan emas dan perak kepadamu, DIA hanya akan memberimu rezeqi jika kalian berniaga diantara sesamamu”

Hingga akhirnya ketika aku tiba pada ucapan WAHDINII (berilah aku petunjuk), aku insyaf bahwa petunjuk NYA tidak akan pernah bisa kuraih kecuali aku bersungguh sungguh bekerja keras melaksanakan satu demi satu perintah NYA sekuat kemampuanku.

Lalu ucapan WA’AFINII WA’FUANNI menyadarkanku bahwa betapapun aku berjuang sekuat tenaga bekerja keras melaksanakan semua kehendak NYA, aku tidak akan pernah lepas dari kemungkinan khilaf dan salah yang terjadi disepanjang jalanku, oleh karenanya aku meminta tulus maaf NYA untukku.

Begitulah kata dan kalimat pintaku kepada NYA selalu mengilhamiku BEKERJA KERAS hingga TUHAN berkenan memajukan hidupku.

Tulis tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *