Dua Laki-laki Pencipta Keajaiban Hidup

Sep 11

1257546849vKHr2Jl

“Selama kita mau bersaing secara sehat menghasilkan karya kebaikan, kita selalu menemukan diri kita memiliki kekuatan yang menakjubkan untuk bekerja mewujudkannya “

Teman teman, pada tulisan sebelumnya, saya sudah berbagi bahwa INSPIRASI untuk BERBUAT BAIK kepada ORANG TUA bisa menimbulkan KEAJAIBAN KARYA KEBAIKAN.

Kini kita renungkan INSPIRASI lainnya yang bisa menumbuhkan keajaiban karya kebaikan bagi kita semua.

Siang itu disebuah kebun kurma di Madinah Abdullah bin Ja’far, salah seorang dermawan kota Madinah mengamati prilaku budak hitam penjaga kebun kurma itu.Ketika hendak menikmati makan siangnya, berupa tiga potong roti, budak itu benar benar membuat takjub Abdullah bin Jakfar.

Saat hendak memakan roti yang pertama, tiba tiba seekor anjing datang kehadapan budak itu, sambil menjulur julurkan lidahnya, tanda bahwa anjing itu sedang kelaparan.Tiba tiba dengan spontan, budak hitam itu memberikan roti yang hendak dimakannya kepada anjing itu.Anjing itu segera pergi.

Budak hitam itu mengambil roti kedua untuk dimakannya.Tetapi belum sempat roti itu dimakannya, anjing itu datang lagi, dan kembali menjulur julurkan lidahnya, tanda bahwa ia ingin meminta lagi roti sang budak itu.Diluar dugaan,budak itu memberikan lagi roti nya kepada anjing itu.

Setelah anjing itu pergi, budak itu mengambil roti ketiganya untuk dimakannya.Tetapi lagi lagi, anjing itu datang untuk ketiga kalinya,meminta roti lagi kepada sang budak.Dan yang menakjubkan budak hitam itu kembali memberikan roti terakhir yang semestinya dia makan sendiri

Melihat perbuatan sang budak itu, Abdullah bin Jakfar merasa kedermawanan sang budakitu jauh mengungguli kedermawan dirinya. Ia segera mendatangi sang budak itu, dan bertanya,” Mengapa roti yang semestinya engkau bisa makan sendiri, justeru engkau berikan kepada seekor anjing ?”

Budak itu menjawab,” Apa engkau lupa bahwa Nabi kita baru saja menerima ayat dari Allah,’ Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai’ ( 3: 92 ). Nah saya ini tidak memiliki apa apa yang saya cintai selain tiga potong roti itu yang tadi sudah saya berikan kepada anjing itu “

Mendengar penjelasan itu, Abdullah bin Jakfar begitu takjub dan sangat termotivasi untuk melakukan kebaikan seperti budak itu. Dia segera pergi meninggalkan budak itu, menemui pemilik kebun kurma dan sekaligus pemilik budak itu.

Setelah bernegosiasi akhirnya Abdullah bin Jakfar berhasil membeli budak hitam itu berikut kebun kurma yang dijaganya dari pemilik sebelumnya.

Lalu dia datang menemui budak itu dan berkata;” Saudaraku, siang ini engkau bukan lagi menjadi milik tuanmu yang lama, tetapi sekarang engkau sudah menjadi milikku. Dan oleh karena engkau sudah menjadi milikku, kini engkau aku merdekakan ”.

Belum habis keheranan budak hitam itu, dia dikagetkan lagi oleh kata kata Abdullah bin Jakfar berikutnya,” Dan kebun kurma ini sudah aku beli dari tuanmu yang memilikimu.Oleh karena kebun ini sudah menjadi milikku, kini aku berikan kebun kurma ini kepadamu ”.

Teman teman dua orang hamba Tuhan ini menginspirasi kita bagaimana menjadi seorang pribadi yang bisa menciptakan KARYA KEBAIKAN dalam kondisi apapun dengan cara SESEMPURNA mungkin yang bisa dilakukannya.

Dan rahasia dibalik karya kebaikan mereka berdua yang begitu AJAIB dan MENAKJUBKAN itu terletak pada motif penggeraknya yaitu:

Pertama: Dorongan untuk bisa meraih KEHORMATAN TERBAIK dihadapan SANG PENCIPTA dan PEMILIK KEHIDUPAN dengan cara MEMBERIKAN SEBAGIAN YANG DICINTAI kepada orang lain.

Kedua: Motivasi untuk bisa menjadi hamba NYA yang selalu sanggup melelepaskan kesulitan hidup saudaranya atau sesama makhluk NYA dengan keyakinan bahwa DIA akan juga melepaskan kesulitan hidup yang dialaminya seperti yang sudah dijanjikan NYA.

Ketiga: Desakan untuk selalu menjadi hamba TUHAN yang senantiasa bisa memberikan manfaat kepada sesamanya.

Keempat: Semangat untuk memenuhi perintah NYA untuk selalu berlomba dan bersaing berbuat kebaikan dalam hidup ini.

Dari sisi lain, jika kita memiliki kemampuan dan keahlian dalam melahirkan karya kebaikan persis sama seperti orang-orang yang ada di sekitar kita, maka bagi orang lain kita tidaklah istimewa.
Keistimewaan baru berhak kita sandang kalau kemampuan dan keahlian kita dalam melahirkan karya kebaikan itu melampaui apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang di sekitar kita.

Dua orang yang saya ceritakan diatas, memberi contoh nyata bagaimana bisa melahirkan karya kebaikan TERBAIK dan MENAKJUBKAN dalam posisi dan kondisi apapun.

Semoga kita bisa meneladaninya

Tulis tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *