Bersiaplah Menghadapi Suasana Paling Ekstrim

Jan 15

2013 01 15 +539001 ee4f330c504360bccd16f9da664c7f1c large

Saya sepenuhnya percaya, bahwa tidak selamanya saya berada dalam situasi dan kondisi lengkap dan sempurna untuk bisa bekerja secara optimal mengatasi berbagai problema kehidupan yang saya hadapi.

Oleh karena itu saya berusaha dan belajar mengembangkan kemampuan bekerja dalam situasi paling minim sarana sekalipun.

Empat pengalaman berikut sangat mengilhami saya untuk melakukan itu:

Pertama: Saat duduk di kelas 2 SMA Negeri 1 Sumenep saya terpaksa mengambil keputusan yang unik. Suatu waktu ketika itu saya kehabisan uang saku sekolah saat jam pulang sekolah. Teman teman sekelas yang satu desa dengan saya sudah pulang duluan. Ayah saya yang biasa menyempatkan menjemput saya dengan becaknya (pekerjaan ayah memang tukang becak) kala itu tidak bisa menjemput. Akhirnya saya memilih berjalan kaki untuk pulang sejauh 4 kilometer.

Kedua: Saat sudah kuliah di Jurusan Pendidikan Matematika IKIP Negri Surabaya selepas mengikuti kuliah Ilmu Pendidikan pada 1988 di daerah Surabaya Utara, Pecindilan, saya juga mengambil keputusan unik.

Waktu itu karena uang saku saya hanya tinggal Rp. 150,-saya memutuskan tidak naik bus kota Damri untuk pulang ke rumah kost saya di Ketintang. Sebab jika itu saya lakukan, keesokan harinya saya tidak akan punya uang untuk sarapan pagi.

Saya memutuskan berjalan kaki dari Pecindilan ke Ketintang padahal jaraknya kira kira kurang lebih 15-17 kilometer.

Ketiga: Sehabis mengunjungi orang tua di Sumenep, pada tahun 1995, saya tidak bisa berbuat banyak ketika sepeda motor Honda CB milik seorang teman yang saya pinjam dan saya parkir di Terminal Bungurasih Surabaya tiba tiba tidak bisa dihidupkan mesinnya. Padahal sehari sebelumnya sudah saya serviskan.

Saat itu saya melihat arloji sudah menunjukkan jam 1 malam. Saya lagi lagi memutuskan berjalan kaki menuntun sepeda motor Honda CB itu dari Terminal Bungurasih ke rumah saya di kawasan dekat Berbek Industri yang berjarak 5 kilometer.

Saya baru sampai dirumah jam 2 malam. Badan saya basah sekali dengan keringat. Capek memang tetapi peristiwa itu amat meninggalkan kenangan.

Keempat: Pulang dari sebuah acara di daerah Surabaya Tengah kira kira pada tahun 1996 pada jam 20. 00, sepeda motor Honda Astrea 800 yang saya kendari tiba tiba macet di kawasan Kebun Bibit Bratang Surabaya, tanpa bisa saya ketahui penyebabnya secara pasti.

Lagi lagi saya memutuskan pulang berjalankaki menuntun sepeda motor Honda Astrea 800 itu ke rumah saya di kawasan Berbek Industri yang berjarak 7 kilometer.

Teman teman mohon maaf kalau saya menceritakan itu semua, lebih karena saya ingin belajar agar mampu menghadapi suasana suasana sulit, minim sarana dan ekstrim dalam kehidupan saya.

Tulis tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *