Aku Tidak Selalu Bisa Bersamu, Tetapi Engkau Senantiasa Bisa Bersama Tuhanmu

May 21

2013 05 21 +1256929142HHvUfix

“Hidup ini adalah perjalanan jauh.
Dan setiap perjalanan pasti melelahkan.
Apalagi perjalanan yang mengusung misi besar perjuangan.

Hanya ikatan kuat yang bisa menjaga dan menyelamatkanmu.
Ikatan yang juga akan selalu menjadi penuntun dan pengarahmu.
Ikatan yang selalu menghubungkan pikiran, perasaan, hati dan jiwamu dengan PENCIPTA, PENGATUR DAN PEMILIK MUTLAK KEHIDUPAN.

Tetapi karena perjalananmu jauh.
Dan engkau juga sebagaimana diriku adalah sosok yang lemah dan terbatas.
Maka hanya ruku’ sujudmu kepada NYA serta ingatanmu yang harus selalu engkau usahakan tertuju kepada NYA, yang akan tetap menjaga kokoh dan kuatnya ikatanmu kepada NYA.
Oleh karenanya engkau harus memelihara itu semua.

Tetapi seperti semua musafir yang harus menikmati jedah dan harus mengistirahatkan dirinya agar kembali menemukan kesegaran dan kebugaran pikiran, perasaan, hati dan badannya.
Maka engkau harus arif dan bijak menggunakan waktu luang dan kesehatanmu di saat saat seperti itu.
Apalagi ditanganmu tergenggam harta dunia yang dengannya engkau bisa beli semua hiburan dan kesenangan yang sebenarnya tidaklah kekal menghibur dan menyenangkanmu.

Alangkah mulianya jika semua anugrah dunia kepadamu dapat engkau gunakan untuk memelihara kesucian pikiran, perasaan, hati, dan badanmu.
Serta untuk memajukan hidupmu.
Juga untuk menebar beribu kebaikan tulus kepada saudara -saudaramu.

Aku tidak dapat selalu bersamamu.
Akan tetapi engkau bisa selalu bersama TUHAN mu.
Jagalah itu.”

Itulah nasehat terakhir yang diberikan orang tua bijak itu kepada laki laki yang selalu dipanggil anak muda itu.

(Banjarbaru, selepas shubuh 21 Mei 2013)

Tulis tanggapan

Your email address will not be published. Required fields are marked *